Kamis, 24 November 2016

Laporan Praktikum Ilmu Ternak Unggas Fapet UGM #Mengejar ACC

LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU TERNAK UNGGAS
SISTEM PENCERNAAN UNGGAS


Disusun Oleh :
Andika Pratama
15/383723/PT/06996

Asisten : Febrian Reynaldi



LABORATORIUM ILMU TERNAK UNGGAS
DEPARTEMEN PRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

PENADAHULUAN
Sistem pencernaan pada umumnya terdiri atas sebuah saluran-saluran panjang.Saluran ini mempunyai panjang kira-kira 9 meter (Deker, 2012). Sistem pencernaan pada ternak meliputi sistem saluran yang menerima makanan, menyerap sari makanan, hingga mengeluarkan sisa-sisa dari proses pencernaan tersebut. Sistem pencernaan meliputi mulut, pankreas, kantong empedu, lambung, usus, dan rektum (Darwis, 2012)

Sistem pencernaan unggas berbeda jauh dari yang mamalia. Burung yang ada tidak memiliki gigi maka tidak ada pengunyahan. Kerongkongan bermuara langsung ke crop, di mana pakan disimpan dan direndam. Pakan setelah dari crop kemudian lolos ke proventriculus (lambung kelenjar). Makanan selamadi proventriculus akan disimpan sementara dan cairan pencernaan atau enzim disekresikan dan dicampur dengan itu. Pakan selanjutnya bergerak melalui usus kecil,.sekum, dan usus besar serta kloaka (Scanes et al., 2004). Kloaka mempunyai otot spinter. Efek dari otot spinter pada kloaka yaitu kloaka selalu tertutup rapat dan membuka pada hanya saat membuang kotoran dan kapalatis (Sutiyono, 2001).
Pakan selanjutnya melewati gizzard. Gizzard adalah organ yang sangat berotot, di mana dengan bantuan batu atau pasir ditelan oleh ayam, pakan hancur dan tanah. Ransum yang diberikan pada ternak dapat mempengaruhi kerja organ dalam dan saluran pencernaan ayam. Sistem organ pencernaan berkembang sesuai dengan ransum yang diberikan. Kelainan pada organ dalam biasanya ditandai dengan adanya perubahan organ dalam secara fisik seperti perubahan warna dan ukuran. Organ dalam pada ternak mempunyai fungsi yang saling berhubungan, berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan pengamatan terhadap persentase bobot organ dalam ayam (Widianingsih, 2008).
Tujuan praktikum sistem pencernaan pada unggas adalah untuk mengetahui efek perbedaan penjang dan berat terhadap fungsi dan performa unggas tersebut. Manfaat praktikum sistem pencernaan unggas adalah dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan panjang dan berat terhadap fungsi dan performa organ pencernaan pada unggas.



MATERI DAN METODE

Materi
Alat. Alat yang digunakan dalam praktikum sistem pencernaan ayam adalah pisau scapel, plastik ukuran 1x1m, mistar ukur, timbangan elektrik, gunting bedah, dan pita ukur
Bahan. Bahan yang digunakan dalam praktikum sistem pencernaan ayam adalah ayam layer betina berumur 72 minggu dengan berat 1331 gram yang disembelih namun masih utuh.

Metode
Ayam betina dan jantan yang telah dipotong dibedah lalu dikeluarkan seluruh organ pencernaannya. Kemudian diletakkan diatas alas kaca diatur secara utuh dan difoto. Seteah itu diukur panjang per bagian, kemudian dipotong per bagian, dikeluarkan kotorannya, dibersihkan lalu ditimbang dan dicatat berat masing-masing organ.



PEMBAHASAN

Sistem Pencernaan
Organ pencernaan dari ayam diambil, kemuadian diamati dan diidentifikasi. Hasil pengamatan dideskripsikan secara fungsional. Anatomi sistem pencernaan unggas terdiri atas mulut, esofagus, tembolok, proventrikulus, gizzard, usus halus, sekum, usus besar, dan kloaka. Berdasarkan hasil praktikum diperoleh data sistem pencernaan ayam sebagai berikut :

Tabel 1. Data pengukuran panjang dan berat organ pencernaan ayam
Nama Organ
Data Praktikum
Data Literatur

Panjang (cm)
Berat (gram)
Panjang (cm)
Berat (gram)
Literatur
Oesophagus
13
2
20
5
Suprijatna et al., (2005)
Crop
8
23
7-10
5-7,5
Wihandoyono et al. (2008)
Proventriculus
10
10
6
6-8,1
Sari dan Ginting (2012), Has et al. (2014)
Gizzard
6
30
5
25
Yoder et al.,  (2013)
Usus halus





Duodenum
27
12

12
Hamsah (2013)
Jejenum
79
18
74
21
Hamsah (2013)
Ileum
69
12
32
15
Usman (2010)
Organ tambahan





Hati
8
29

22
Tarigan et al., (2013)
Pankreas
11
3

2
Suprijatna et al., (2005)
Limfa
2
1

2
Resnawati (2010)
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan panjang oesophagus ayam 13 cm dan berat 2 gram. Suprijatna et al., (2005) berpendapat bahwa kisaran normal panjang oesophagus adalah 20 sampai 25 cm dengan berat 5 sampai 7,5 gram. Hasil tersebut menunjukkan bahwa panjang dan berat oesophagus ayam tidak berada pada kisaran normal yaitu lebih pendek dan lebih ringan dari kisaran normal. Perbedaan ini juga dapat dipengaruhi oleh pemberian pakan atau jenis pakan yang dikonsumsi, kecernaan terhadap serat kasar, enzim, umur, dan jenis unggas (Sari dan Ginting, 2012). Wihandoyo et al. (2008) menyatakan bahwa perbedaan yang terjadi dapat di pengaruhi oleh faktor-faktor umur, bangsa, dan pakan. (Nasrin et al., 2012) panjang dan pendeknya ukuran dari oesophagus mempengaruhi tingkat konsumsi pakan dari ternak. Oesophagus yang panjang memungkinkan ayam mampu mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang cukup banyak, namun akan lebih lama dalam mencerna pakan. Apabila berat oesophagus dibawah kisaran normal maka menyebabkan sekresi mukosa semakin sedikit yang membuat pakan sulit ditelan
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan panjang crop ayam 8 cm dan berat 23 gram. Wihandoyono et al. (2008) menjelaskan bahwa panjang crop yaitu 7 sampai 10 cm dengan berat sekitar 5 sampai 7,5 gram. Hasil tersebut menunjukkan bahwa panjang crop berada pada kisaran normal dan berat crop ayam tidak berada pada kisaran normal yaitu lebih ringan dari kisaran normal. Perbedaan ini juga dapat dipengaruhi oleh pemberian pakan atau jenis pakan yang dikonsumsi, kecernaan terhadap serat kasar, enzim, umur, dan jenis unggas (Sari dan Ginting, 2012). Atmomarsono (2000) menjelaskan bahwa ukuran crop berhubungan erat dengan kemampuan crop dalam menampung pakan. Volume crop merupakan alat pengontrol konsumsi. Panjang pendeknya ukuran crop mempengaruhi kinerja crop. Noeferdiman (2012) menyatakan bahwa crop yang mempunyai ukuran yang relatif panjang memiliki daya cerna pakan yang tinggi karena otot yang terdapat pada crop juga lebih kuat dalam menghancurkan pakan. Semakin besar ukuran crop maka semakin besar pula kapasitas pakan yang dapat ditampung.
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan panjang proventriculus ayam 10 cm dan berat 10 gram. Sari dan Ginting (2012) menyatakan bahwa panjang proventriculus adalah 6 cm. Has et al. (2014) menyatakan bahwa berat proventriculus yaitu 6 sampai 8,1 gram. Hasil tersebut menunjukkan bahwa panjang crop ayam tidak berada pada kisaran normal yaitu lebih pendek dan berat crop tidak berada pada kisaran normal. Faktor yang mempengaruhi bobot proventriculus adalah umur, bangsa, dan genetik ternak (Usman, 2010). Sari dan Ginting (2012) menjelaskan bahwa besar kecilnya proventriculus dipengaruhi oleh pakan ternak. Proventriculus sebagai organ lambung sejati ayam memiliki peranan penting dalam pencernaan enzimatisnya. Sari dan Ginting (2012) menyatakan bahwa semakin besar ukuran proventriculus maka lebih maksimal untuk memproduksi asam hydrochloric (HCI) dan pepsin, dan enzim yang dapat memecah protein serta kandungan fosfor yang terikat oleh kandungan asam fitat.
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan panjang gizzard ayam 6 cm dan berat 30 gram. Yoder et al.,  (2013) menyatakan bahwa gizzard yang normal memiliki panjang 5 cm sampai 7,5 cm dengan beratnya 25 gram sampai 30 gram. Berdasarkan literatur diketahui bahwa panjang dan berat gizzard ayam berada pada kisaran normal. Suprijatna et al. (2005), menyatakan bahwa peningkatan bobot gizzard dapat disebabkan karena peningkatan serat kasar dalam pakan. Peningkatan ini mengakibatkan beban gizzard lebih besar untuk memperkecil ukuran partikel ransum secara fisik, akibatnya urat daging gizzard tersebut akan lebih tebal sehingga memperbesar ukuran gizzard. Usman (2010) menyatakan bahwa semakin berat bobot gizzard maka kemampuan gizzard  dalam memperkecil ukuran partikel ransum secara fisik akan semakin besar.
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan panjang duodenum ayam 27 cm dan berat 12 gram. Hamsah (2013) menyatakan bahwa berat duodenum ayam umur 35 hari adalah 4 gram. Berdasarkan literatur, diketahui bahwa panjang dan berat duodenum berada di bawah kisaran normal. Usman (2010) menyatakan bahwa perbedaan panjang dan berat duodenum disebabkan karena perbedaan umur maupun jenis unggas, akibatnya terjadi penyerapan nutrien yang berlebih sehingga perfoma ayam meningkat dan diiringi produksi yang meningkat, akan tetapi ketika terlalu berlebihan maka bisa membuat perfoma ayam menurun.
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan panjang jejenum ayam 79 cm dan berat 18 gram. Hamsah (2013) menyatakan bahwa panjang jejunum ayam berkisar antara 58 sampai 74 cm dan berat 2,9 sampai 3,8 gram tiap 10 cm dari panjang jejenum atau sekitar 21 gram. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa panjang dari jejenum ayam berada dibawah kisaran normal, sementara berat dari jejenum berada diatas kisaran normal. Usman (2010) menyatakan bahwa hal ini disebabkan karena aktivitas, banyaknya pakan yang dikonsumsi, perbedaan umur ayam dan ukuran tubuh. Secara langsung panjang dan berat jejenum berpengaruh terhadap kondisi fisiologis ayam karena berkaitan dengan proses penyerapan/absorbsi nutrien.
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan panjang ileum ayam 69 cm danberat 12 gram. Usman (2010) menyatakan bahwa ileum memiliki panjang 32 cm dan berat 15 gram. Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa panjang ileum melebihi panjang kisaran normal dan berat ileum kurang dari kisaran normal. Usman (2010) menyatakan bahwa hal ini disebabkan karena aktivitas, benyaknya pakan yang dikonsumsi, perbedaan umur ayam dan ukuran tubuh. Semakin besarnya ukuran ileum menyebabkan penyerapan menjadi tinggi dan diiringi produksi yang tinggi, sedangkan semakin pendek ukurannya maka dapat menyebabkan perfoma ayam menurun.
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan panjang coecum ayam 18 cm danberat 2 gram. Suprijatna et al., (2005) menyatakan bahwa dalam keadaan normal, panjang setiap ceca 6 inci atau 15 cm. Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa panjang dan berat coecum kurang dari kisaran normal. Usman (2010) menyatakan bahwa faktor yang menyebabkan perbedaan panjang dan berat coecum adalah karena perbedaan ukuran tubuh, umur, dan kemampuan coecum dalam mencerna serat kasar. Ukuran coecum yang diatas rata-rata menyebabkan pencernaan serat kasar menjadi tinggi, tingginya pencernaan serat kasar berakibat pada tingkat produksinya.
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan panjang usus besar ayam 8 cm dan berat 4 gram. Akoso (1998) menyatakan bahwa berat normal usus besar adalah 4 sampai 6 gram. Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa berat usus besar berada pada kisaran normal. Usman (2010) menyatakan bahwa faktor yang menyebabkan perbedaan panjang dan berat colon adalah perbedaan ukuran tubuh, umur, dan kemampuan sekum dalam mencerna serat kasar. Usman (2010) menyatakan bahwa usus besar merupakan saluran pencernaan yang memiliki saluran menuju cloaca. Usus besar adalah tempat terjadinya penyerapan air dari sisa-sisa makanan. Ukuran usus besar yang berbeda-beda menunjukkan kapasitas penyerapan yang berbeda pula. Penyerapan air akan maksimal untuk usus besar yang panjang.

Organ Tambahan
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan panjang hati ayam 8 cm dan berat 29 gram. Tarigan et al., (2013) menyatakan bahwa persentase berat hati normal ayam adalah 1,70 sampai 2,80 % dari berat ayam atau sekitar 22 sampai 37 gram. Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa berat hati berada pada kisaran normal. Bobot hati meningkat dipengaruhi oleh jumlah penyerapan nutrien dan kandungan serat kasar (Suprijatna et al., 2005). Sulistyoningsih (2015) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi bobot hati adalah bobot tubuh, spesies, jenis kelamin, umur, dan bakteri patogen. Usman (2010) menyatakan bahwa semakin besar ukuran hati, menunjukkan semakin banyak racun yang terdapat pada tubuh ayam. Hati berfungsi sebagai organ penyaring racun yang ada di dalam tubuh. Semakin panjang dan besar ukuran hati pada ayam, maka semakin tinggi tingkat kerja hati dalam proses detoksifikasi senyawa toksik yang terdapat pada tubuh ternak.
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan panjang pankreas yang didapat adalah 11 cm dan berat 3 gram. Suprijatna et al., (2005) menyatakan bahwa bobot pankreas berkisar antara 2 sampai 4,5 gram. Berdasarkan literatur diketahui bahwa pankreas pada ayam dalam kondisi normal. Perbedaan bobot pankreas disebabkan oleh jenis, umur, besar, aktivitas hewan dan juga sekresi enzim pencernaan yang dihasilkan oleh pankreas (Suprijatna et al., 2005). Berat pankreas yang meningkat memiliki hubungan yang erat terhadap proses pencernaan terhadap makanan (Suprijatna et al., 2005).  Kusmayadi (2004) menjelaskan bahwa pengaruh atau efek dari bobot pancreas yang relatifsama yaitu aktivitas kerja pancreas sebagai pensekresi enzim-enzim pencernaan dalam tubuh dapat berjalan lancar. Penyakit yang menyerang pancreas dapat merusak jaringan parenkim sehingga mengurangi produksi tripsin, steapsin, dan amylopsin yang diperlukan pada pencernaan zat-zat telur, lemak, dan pati.
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan diketahui bahwa limfa ayam panjang 2 cm dan berat 1 gram. Resnawati (2010) menyatakan bahwa bobot dari limfa ayam adalah sekitar 0,14 sampai 0,17 persen dari berat badan atau sekitar 2 gram. Berdasarkan literatur diketahui bahwa berat limfa pada ayam berada pada kondisi normal. Perbedaan bobot limfa disebabkan oleh tingkat pertumbuhan, jenis kelamin, strain ayam dan lingkungan (Resnawati, 2010). Limfa terletak dekat rempela dalam rongga perut yang berperan sebagai penyimpan sel-sel darah merah, oleh karena itu perbedaan ukuran dari kisaran normal sangat mempengaruhi kondisi fisik ayam (Resnawati, 2010).

Sistem Pencernaan Ayam

Keterangan
1.    Oesophagus
2.    Crop
3.    Proventriculus
4.    Gizzard
5.    Duodenum
6.    Jejenum
7.    Ileum
8.    Coecum
9.    Colon
10. Cloaca
11. Hati
12. Pankreas





KESIMPULAN

Sistem digesti ternak unggas terdiri atas mulut, oesophagus, crop, proventriculus, gizzard, usus halus, coecum, usus besar, dan kloaka. Organ tambahan terdiri atas hati, limpa dan pankreas. Hasil pengukuran dan penimbangan didapatkan bahwa panjang dan berat masing-masing organ pencernaan secara keseluruhan rata-rata masih berada pada kisaran normal. Organ yang normal meliputi proventriculus, gizzard, duodenum, ileum, hati, pankreas, dan limfa, sedangkan organ yang tidak normal meliputi oesophagus, crop, dan jejenum. Perbedaan ukuran pada saluran pencernaan dapat disebabkan oleh umur, pemberian pakan dan lingkungan. Perbedaan ukuran setiap organ pencernaan pada ayam mempengaruhi secara langsung terhadap kondisi ayam. Panjang dan berat yang tidak berada pada kisaran normal berarti terdapat permasalahan pada organ yang menyangkut proses pencernaan dan hal tersebut mempengaruhi status nutrisi di dalam tubuh ayam. Perbedaan ukuran pada saluran pencernaan menyebabkan perbedaan aktivitas atau fungsi yang berjalan secara optimal atau tidak.


DAFTAR PUSTAKA

Atmomarsono, U. 2000. Pengaruh substitusi dedak halus dalam ransum komersial terhadap efisiensi protein dan ukuran saluran pencernaan pada ayam F1 persilangan. Universitas Diponegoro.
Deker, D. 2012. Sistem Pakar Untuk Diagnosa Penyakit Pada Saluran Pencernaan Dengan Basis Pengetahuan. Universitas Bina Darma. Palembang.
Darwis, W. 2012. Tanaman Obat Yang Terdapat Di Kota BengkuluYang Berpotensi Sebagai Obat Penyakit Dan Gangguan PadaSistem Pencernaan. Jurnal Ilmiah Konservasi Hayati Universitas Bengkulu. Bengkulu.
Hamsah. 2013. Respon Usus dan Karakteristik Karkas pada Ayam Ras Pedaging dengan Berat Badan Awal Berbeda yang Dipuasakan Setelah Menetas. Skripsi. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar.
Has, H., A. Napirah., dan A. Indi. 2008. Efek peningkatan serat kasar dengan penggunaan daun murbei dalam ransum broiler terhadap persentase  bobot saluran pencernaan. JITRO.Vol 1 No 1.
Kusmayadi. 2004. Pengaruh pemberian tetrasiklin dan kopi dalam ransum berenergi metabolis 2.600 KKAL/KG terhadap persentase karkas, potongan komersial dan organ dalam ayam kampong. Intitut Pertanian Bogor.
Nasrin, M, M.N.H. Siddiqi, M.A. Masum, dan M.A. Wares. 2012. Gross and histological studies of digestive tract of broilers during postnatal growth and development. Bangladesh Agrit University.
Resnawati, H. 2010. Bobot Organ-Organ Tubuh Pada Ayam Pedaging Yang Diberi Pakan Mengandung Minyak Biji Saga. Jurnal Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor.
Sari, M.L dan F Gurki N Ginting. 2012. Pengaruh Penambahan Enzim Fitase Pada Ransum terhadap Berat Relatif Organ Pencernaan Ayam Broiler. Jurnal Agripet Universitas Sriwijaya. Palembang.
Scanes, C. G., G. Brant., dan M. E. Ensminger. 2004. Poultry Science Fourth Edition. Pearson Prentice Hall. New Jersey.
Suprijatna, E., Dulatip Natawihardia. 2005. Pertumbuhan Organ Reproduksi Ayam Ras Petelur Dan Dampaknya Terhadap Performans Produksi Telur Akibat Pemberian Ransum Dengan Taraf Protein Berbeda Saat Periode Pertumbuhan. Jurnal Ilmiah Fakultas Peternakan UNDIP. Semarang.
Sulistyoningsih, Mei. 2015. Pengaruh variasi herbal terhadap organ dalam broiler. Seminar Nasional Konservasi dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam.hlm 93-97.
Sutiyono. 2001.Pelatihan usaha penangkaran dan inseminasi buatan ayam bekisar dalam rangka pengelolaan sumber daya hutan bersama masyarakat. Semarang.
Tarigan, Ronstarci., O. Sjofjian., and I. H. Djunaidi. 2013. Pengaruh penambahan probiotik selulolitik dalam pakan terhadap kualitas karkas, lemak abdominal dan berat organ dalam ayam pedaging. Universitas Brawijaya. Malang
Yoder, C. A., J. K. Graham, and L. A. Miller. 2009. Molecular Effect of Nicarbazin on Avian Reproduction. National Wildlife Research.Colorado State University.
Usman, Ahmad Nur Ramdani. 2010. Pertumbuhan Ayam Broiler (Melalui Sistem Pencernannya) Yang Diberi Pakan Nabati Dan Komersial Dengan Penambahan Dysapro. Institute Pertanian Bogor. Bogor.
Widianingsih, M. N. 2008. Persentase organ dalam broiler yang diberi ransum crumble berperekat onggok, bentonit, dan tapioca. Institut Pertanian Bogor.10-20.
Wihandoyo, J. H. P. Sidodolog, H. Sasongko, S. Sudaryati dan Tri Yuwanta. 2008. Ilmu Ternak Unggas. Bahan Ajar Lab. Ternak Unggas Bagian Produksi Ternak, Fakultas Peternakan. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar