LAPORAN
PRAKTIKUM
ILMU TERNAK
UNGGAS
SISTEM PENCERNAAN
UNGGAS
Disusun Oleh :
Andika Pratama
15/383723/PT/06996
Asisten : Febrian
Reynaldi
LABORATORIUM ILMU TERNAK UNGGAS
DEPARTEMEN PRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016
PENADAHULUAN
Sistem pencernaan pada umumnya terdiri atas sebuah
saluran-saluran panjang.Saluran ini mempunyai panjang kira-kira 9 meter (Deker,
2012). Sistem pencernaan pada ternak meliputi sistem saluran yang menerima
makanan, menyerap sari makanan, hingga mengeluarkan sisa-sisa dari proses
pencernaan tersebut. Sistem pencernaan meliputi mulut, pankreas, kantong
empedu, lambung, usus, dan rektum (Darwis, 2012)
Sistem pencernaan unggas berbeda jauh dari yang mamalia. Burung yang ada
tidak memiliki gigi maka tidak ada pengunyahan. Kerongkongan bermuara langsung
ke crop, di mana pakan disimpan dan
direndam. Pakan setelah dari crop kemudian
lolos ke proventriculus (lambung
kelenjar). Makanan selamadi proventriculus akan
disimpan sementara dan cairan pencernaan atau enzim disekresikan dan dicampur
dengan itu. Pakan selanjutnya bergerak melalui usus kecil,.sekum, dan usus besar serta
kloaka (Scanes et al., 2004). Kloaka
mempunyai otot spinter. Efek dari otot spinter pada kloaka yaitu kloaka selalu tertutup rapat
dan membuka pada hanya saat membuang kotoran dan kapalatis (Sutiyono, 2001).
Pakan selanjutnya melewati gizzard.
Gizzard adalah organ yang sangat
berotot, di mana dengan bantuan batu atau pasir ditelan oleh ayam, pakan hancur
dan tanah. Ransum
yang diberikan pada ternak dapat mempengaruhi kerja organ dalam dan saluran
pencernaan ayam. Sistem organ pencernaan berkembang sesuai dengan ransum yang
diberikan. Kelainan pada organ dalam biasanya ditandai dengan adanya perubahan
organ dalam secara fisik seperti perubahan warna dan ukuran. Organ dalam pada ternak mempunyai fungsi yang saling
berhubungan, berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan pengamatan terhadap
persentase bobot organ dalam ayam (Widianingsih, 2008).
Tujuan praktikum sistem pencernaan pada unggas adalah
untuk mengetahui efek perbedaan penjang dan berat terhadap fungsi dan performa
unggas tersebut. Manfaat praktikum sistem pencernaan unggas adalah dapat
mengetahui kekurangan dan kelebihan panjang dan berat terhadap fungsi dan
performa organ pencernaan pada unggas.
MATERI DAN
METODE
Materi
Alat. Alat yang
digunakan dalam praktikum sistem pencernaan ayam adalah pisau scapel, plastik
ukuran 1x1m, mistar ukur, timbangan elektrik, gunting bedah, dan pita ukur
Bahan. Bahan yang
digunakan dalam praktikum sistem pencernaan ayam adalah ayam layer betina berumur
72 minggu dengan berat 1331 gram yang disembelih namun masih utuh.
Metode
Ayam betina dan jantan yang telah dipotong dibedah
lalu dikeluarkan seluruh organ pencernaannya. Kemudian diletakkan diatas alas
kaca diatur secara utuh dan difoto. Seteah itu diukur panjang per bagian,
kemudian dipotong per bagian, dikeluarkan kotorannya, dibersihkan lalu
ditimbang dan dicatat berat masing-masing organ.
PEMBAHASAN
Sistem Pencernaan
Organ pencernaan dari ayam diambil, kemuadian diamati
dan diidentifikasi. Hasil pengamatan dideskripsikan secara fungsional. Anatomi sistem
pencernaan unggas terdiri atas mulut, esofagus, tembolok, proventrikulus, gizzard, usus halus, sekum, usus besar,
dan kloaka. Berdasarkan hasil praktikum diperoleh data sistem pencernaan ayam sebagai
berikut :
Tabel 1. Data
pengukuran panjang dan berat organ pencernaan ayam
Nama Organ
|
Data Praktikum
|
Data Literatur
|
|||
Panjang (cm)
|
Berat (gram)
|
Panjang (cm)
|
Berat (gram)
|
Literatur
|
|
Oesophagus
|
13
|
2
|
20
|
5
|
Suprijatna
et al., (2005)
|
Crop
|
8
|
23
|
7-10
|
5-7,5
|
Wihandoyono et
al. (2008)
|
Proventriculus
|
10
|
10
|
6
|
6-8,1
|
Sari dan Ginting (2012), Has et al.
(2014)
|
Gizzard
|
6
|
30
|
5
|
25
|
Yoder et al., (2013)
|
Usus halus
|
|||||
Duodenum
|
27
|
12
|
12
|
Hamsah
(2013)
|
|
Jejenum
|
79
|
18
|
74
|
21
|
Hamsah
(2013)
|
Ileum
|
69
|
12
|
32
|
15
|
Usman
(2010)
|
Organ
tambahan
|
|||||
Hati
|
8
|
29
|
22
|
Tarigan et al., (2013)
|
|
Pankreas
|
11
|
3
|
2
|
Suprijatna
et al., (2005)
|
|
Limfa
|
2
|
1
|
2
|
Resnawati (2010)
|
|
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan panjang oesophagus ayam 13 cm dan berat 2 gram. Suprijatna et al., (2005) berpendapat bahwa kisaran normal panjang oesophagus
adalah 20 sampai 25 cm dengan berat 5 sampai 7,5 gram. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa panjang dan berat oesophagus ayam tidak berada pada
kisaran normal yaitu lebih pendek dan lebih ringan dari kisaran normal. Perbedaan
ini juga dapat dipengaruhi oleh pemberian pakan atau jenis pakan yang
dikonsumsi, kecernaan terhadap serat kasar, enzim, umur, dan jenis unggas (Sari
dan Ginting, 2012). Wihandoyo et al.
(2008) menyatakan bahwa perbedaan
yang terjadi dapat di pengaruhi oleh
faktor-faktor umur, bangsa, dan pakan. (Nasrin et al.,
2012) panjang dan pendeknya
ukuran dari oesophagus mempengaruhi
tingkat konsumsi pakan dari ternak. Oesophagus
yang panjang memungkinkan ayam mampu mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang cukup
banyak, namun akan lebih lama dalam mencerna pakan. Apabila berat oesophagus
dibawah kisaran normal maka menyebabkan sekresi mukosa semakin sedikit yang
membuat pakan sulit ditelan
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan panjang crop ayam 8 cm dan berat 23 gram.
Wihandoyono et al. (2008) menjelaskan bahwa panjang crop yaitu 7 sampai 10 cm dengan berat sekitar 5 sampai 7,5 gram. Hasil
tersebut menunjukkan bahwa panjang crop berada pada kisaran normal dan berat crop
ayam tidak berada pada kisaran normal yaitu lebih ringan dari kisaran
normal. Perbedaan
ini juga dapat dipengaruhi oleh pemberian pakan atau jenis pakan yang
dikonsumsi, kecernaan terhadap serat kasar, enzim, umur, dan jenis unggas (Sari
dan Ginting, 2012). Atmomarsono (2000) menjelaskan bahwa ukuran crop berhubungan erat dengan kemampuan crop dalam menampung pakan. Volume crop
merupakan alat pengontrol konsumsi. Panjang pendeknya ukuran crop mempengaruhi kinerja crop. Noeferdiman (2012) menyatakan bahwa crop yang mempunyai ukuran yang relatif panjang memiliki daya
cerna pakan yang tinggi karena otot yang terdapat pada crop juga lebih kuat dalam menghancurkan pakan. Semakin besar ukuran crop maka semakin besar pula
kapasitas pakan yang dapat ditampung.
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan panjang proventriculus ayam 10 cm dan berat 10 gram.
Sari dan Ginting (2012) menyatakan bahwa panjang proventriculus
adalah 6 cm. Has et al. (2014)
menyatakan bahwa berat proventriculus yaitu 6 sampai 8,1 gram. Hasil
tersebut menunjukkan bahwa panjang crop ayam tidak berada pada kisaran
normal yaitu lebih pendek dan berat crop tidak
berada pada kisaran normal. Faktor yang mempengaruhi bobot proventriculus
adalah umur, bangsa, dan genetik ternak (Usman, 2010). Sari dan
Ginting (2012) menjelaskan bahwa
besar kecilnya proventriculus dipengaruhi oleh pakan ternak. Proventriculus
sebagai organ lambung sejati ayam memiliki peranan penting dalam pencernaan
enzimatisnya. Sari dan Ginting
(2012) menyatakan bahwa semakin besar ukuran proventriculus maka lebih maksimal
untuk memproduksi asam hydrochloric (HCI) dan pepsin, dan enzim yang dapat memecah
protein serta kandungan fosfor yang terikat oleh kandungan asam fitat.
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan panjang gizzard ayam 6 cm dan berat 30 gram.
Yoder et al., (2013) menyatakan
bahwa gizzard yang normal memiliki panjang 5 cm sampai 7,5 cm dengan beratnya 25 gram sampai 30 gram. Berdasarkan literatur diketahui bahwa panjang dan
berat gizzard ayam berada pada kisaran normal. Suprijatna et al. (2005),
menyatakan bahwa peningkatan bobot
gizzard dapat disebabkan karena peningkatan serat kasar dalam pakan.
Peningkatan ini mengakibatkan beban gizzard
lebih besar untuk memperkecil ukuran partikel ransum secara fisik,
akibatnya urat daging gizzard
tersebut akan lebih tebal sehingga memperbesar ukuran gizzard. Usman (2010) menyatakan bahwa semakin
berat bobot gizzard maka kemampuan gizzard
dalam memperkecil ukuran partikel ransum secara fisik akan semakin
besar.
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan panjang duodenum ayam 27 cm dan berat 12 gram. Hamsah (2013) menyatakan bahwa berat duodenum
ayam umur 35 hari adalah 4 gram. Berdasarkan literatur, diketahui bahwa panjang
dan berat duodenum berada di bawah kisaran normal. Usman (2010)
menyatakan bahwa perbedaan panjang dan berat duodenum disebabkan karena
perbedaan umur maupun jenis unggas, akibatnya terjadi penyerapan nutrien yang berlebih sehingga perfoma ayam meningkat dan diiringi produksi yang meningkat, akan
tetapi ketika terlalu berlebihan maka bisa membuat perfoma ayam menurun.
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan panjang jejenum ayam 79 cm dan berat 18 gram.
Hamsah (2013) menyatakan bahwa panjang jejunum ayam berkisar antara 58
sampai 74 cm dan berat 2,9 sampai 3,8 gram tiap 10 cm dari panjang jejenum
atau sekitar 21 gram. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa panjang
dari jejenum ayam berada dibawah
kisaran normal, sementara berat dari
jejenum berada diatas kisaran normal. Usman (2010) menyatakan bahwa hal ini
disebabkan karena aktivitas, banyaknya pakan yang dikonsumsi, perbedaan umur
ayam dan ukuran tubuh. Secara langsung panjang dan berat jejenum berpengaruh terhadap kondisi fisiologis ayam karena
berkaitan dengan proses penyerapan/absorbsi nutrien.
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan panjang ileum ayam 69 cm danberat 12 gram. Usman (2010) menyatakan bahwa ileum memiliki panjang
32 cm dan berat 15 gram. Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa panjang
ileum melebihi panjang kisaran normal dan berat ileum kurang dari kisaran normal. Usman (2010) menyatakan bahwa hal
ini disebabkan karena aktivitas, benyaknya pakan yang dikonsumsi, perbedaan
umur ayam dan ukuran tubuh. Semakin besarnya ukuran ileum menyebabkan penyerapan menjadi
tinggi dan diiringi produksi yang tinggi, sedangkan semakin
pendek ukurannya maka dapat menyebabkan perfoma ayam menurun.
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan panjang coecum ayam 18 cm danberat 2
gram. Suprijatna et al., (2005) menyatakan bahwa dalam keadaan normal, panjang setiap ceca 6 inci atau 15 cm. Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa panjang dan berat coecum kurang dari kisaran normal. Usman
(2010) menyatakan bahwa faktor yang menyebabkan perbedaan panjang dan berat coecum adalah karena perbedaan ukuran
tubuh, umur, dan kemampuan coecum
dalam mencerna serat kasar. Ukuran coecum
yang diatas rata-rata menyebabkan pencernaan serat kasar menjadi tinggi, tingginya
pencernaan serat kasar berakibat pada tingkat produksinya.
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan panjang usus besar ayam 8 cm dan berat 4
gram. Akoso
(1998) menyatakan bahwa berat normal usus besar adalah 4 sampai 6 gram. Berdasarkan
hasil praktikum diketahui bahwa berat usus besar berada pada kisaran normal. Usman
(2010) menyatakan bahwa faktor yang menyebabkan perbedaan panjang dan berat colon adalah perbedaan ukuran tubuh,
umur, dan kemampuan sekum dalam mencerna serat kasar. Usman
(2010) menyatakan bahwa
usus
besar merupakan saluran pencernaan
yang memiliki saluran menuju cloaca. Usus
besar adalah tempat terjadinya penyerapan air dari sisa-sisa makanan. Ukuran
usus besar yang berbeda-beda menunjukkan kapasitas penyerapan yang berbeda
pula. Penyerapan air akan maksimal untuk usus besar yang panjang.
Organ
Tambahan
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan panjang hati ayam 8 cm dan berat 29 gram. Tarigan et al., (2013) menyatakan
bahwa persentase berat hati normal ayam adalah 1,70 sampai 2,80 % dari berat ayam atau
sekitar 22 sampai 37 gram. Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa berat
hati berada pada kisaran normal. Bobot hati meningkat dipengaruhi oleh jumlah
penyerapan nutrien dan kandungan serat kasar (Suprijatna et al., 2005). Sulistyoningsih (2015) menjelaskan bahwa faktor-faktor
yang memengaruhi bobot hati adalah bobot tubuh, spesies, jenis kelamin, umur,
dan bakteri patogen. Usman (2010) menyatakan bahwa semakin
besar ukuran hati, menunjukkan semakin banyak racun yang terdapat pada tubuh
ayam. Hati
berfungsi sebagai organ penyaring racun yang ada di dalam tubuh. Semakin
panjang dan besar ukuran hati pada ayam, maka semakin tinggi tingkat kerja hati
dalam proses detoksifikasi senyawa toksik yang terdapat pada tubuh ternak.
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan
didapatkan panjang pankreas yang didapat adalah 11 cm dan berat 3 gram. Suprijatna
et al., (2005) menyatakan bahwa bobot pankreas berkisar antara 2 sampai
4,5 gram. Berdasarkan literatur diketahui bahwa pankreas pada ayam dalam
kondisi normal. Perbedaan bobot pankreas disebabkan oleh jenis, umur, besar,
aktivitas hewan dan juga sekresi enzim pencernaan yang dihasilkan oleh pankreas
(Suprijatna et al., 2005). Berat pankreas yang meningkat memiliki hubungan yang erat terhadap
proses pencernaan terhadap makanan (Suprijatna et al., 2005). Kusmayadi (2004) menjelaskan bahwa pengaruh atau efek dari bobot pancreas yang relatifsama yaitu aktivitas kerja pancreas sebagai pensekresi enzim-enzim
pencernaan dalam tubuh dapat berjalan lancar. Penyakit yang
menyerang pancreas dapat merusak jaringan parenkim sehingga mengurangi produksi tripsin,
steapsin, dan amylopsin yang diperlukan pada pencernaan zat-zat telur, lemak,
dan pati.
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan diketahui bahwa limfa ayam
panjang 2 cm dan berat 1 gram. Resnawati (2010) menyatakan bahwa bobot dari
limfa ayam adalah sekitar 0,14 sampai 0,17 persen dari berat badan atau sekitar
2 gram. Berdasarkan literatur diketahui bahwa berat limfa pada ayam berada pada
kondisi normal. Perbedaan bobot limfa disebabkan oleh tingkat
pertumbuhan, jenis kelamin, strain ayam dan lingkungan (Resnawati,
2010). Limfa terletak dekat rempela dalam rongga perut yang berperan sebagai
penyimpan sel-sel darah merah, oleh karena itu perbedaan ukuran dari kisaran
normal sangat mempengaruhi kondisi fisik ayam (Resnawati, 2010).
Sistem
Pencernaan Ayam
|
|||
KESIMPULAN
Sistem digesti ternak unggas terdiri
atas mulut, oesophagus, crop,
proventriculus, gizzard,
usus halus, coecum,
usus besar, dan kloaka. Organ tambahan terdiri atas hati, limpa dan pankreas.
Hasil pengukuran dan penimbangan didapatkan bahwa panjang dan berat
masing-masing organ pencernaan secara keseluruhan rata-rata masih berada pada
kisaran normal. Organ yang normal meliputi proventriculus,
gizzard, duodenum, ileum, hati, pankreas, dan limfa, sedangkan organ yang
tidak normal meliputi oesophagus, crop,
dan jejenum. Perbedaan ukuran pada
saluran pencernaan dapat disebabkan oleh umur, pemberian pakan dan lingkungan.
Perbedaan ukuran setiap organ pencernaan pada ayam mempengaruhi secara langsung
terhadap kondisi ayam. Panjang dan berat yang tidak berada pada kisaran normal
berarti terdapat permasalahan pada organ yang menyangkut proses pencernaan dan
hal tersebut mempengaruhi status nutrisi di dalam tubuh ayam. Perbedaan ukuran pada saluran pencernaan menyebabkan perbedaan aktivitas
atau fungsi yang berjalan secara optimal atau tidak.
DAFTAR
PUSTAKA
Atmomarsono, U. 2000. Pengaruh substitusi dedak halus dalam ransum
komersial terhadap efisiensi protein dan ukuran saluran pencernaan pada ayam F1
persilangan. Universitas Diponegoro.
Deker, D. 2012. Sistem Pakar Untuk Diagnosa Penyakit Pada Saluran
Pencernaan Dengan Basis Pengetahuan. Universitas Bina Darma. Palembang.
Darwis, W. 2012.
Tanaman Obat Yang Terdapat Di Kota BengkuluYang Berpotensi Sebagai Obat
Penyakit Dan Gangguan PadaSistem Pencernaan. Jurnal
Ilmiah Konservasi Hayati Universitas Bengkulu. Bengkulu.
Hamsah. 2013. Respon
Usus dan Karakteristik Karkas pada Ayam Ras Pedaging dengan Berat Badan Awal
Berbeda yang Dipuasakan Setelah Menetas. Skripsi. Fakultas Peternakan
Universitas Hasanuddin, Makassar.
Has, H., A. Napirah., dan A. Indi. 2008. Efek peningkatan serat kasar
dengan penggunaan daun murbei dalam ransum broiler terhadap persentase bobot saluran pencernaan. JITRO.Vol 1 No 1.
Kusmayadi. 2004. Pengaruh pemberian tetrasiklin dan
kopi dalam ransum berenergi metabolis 2.600 KKAL/KG terhadap persentase karkas,
potongan komersial dan organ dalam ayam kampong. Intitut Pertanian Bogor.
Nasrin, M, M.N.H. Siddiqi, M.A. Masum, dan M.A. Wares.
2012. Gross and histological studies of digestive tract of broilers during
postnatal growth and development. Bangladesh Agrit University.
Resnawati, H. 2010.
Bobot Organ-Organ Tubuh Pada Ayam Pedaging Yang Diberi Pakan Mengandung Minyak
Biji Saga. Jurnal Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor.
Sari, M.L
dan F Gurki N Ginting. 2012. Pengaruh
Penambahan Enzim Fitase Pada Ransum terhadap Berat Relatif Organ Pencernaan
Ayam Broiler. Jurnal Agripet Universitas Sriwijaya. Palembang.
Scanes, C. G., G. Brant., dan M. E. Ensminger. 2004. Poultry Science
Fourth Edition. Pearson Prentice Hall. New Jersey.
Suprijatna,
E., Dulatip Natawihardia. 2005. Pertumbuhan Organ Reproduksi Ayam Ras Petelur
Dan Dampaknya Terhadap Performans Produksi Telur Akibat Pemberian Ransum Dengan
Taraf Protein Berbeda Saat Periode Pertumbuhan. Jurnal Ilmiah Fakultas
Peternakan UNDIP. Semarang.
Sulistyoningsih, Mei. 2015. Pengaruh variasi herbal terhadap organ dalam
broiler. Seminar Nasional Konservasi dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam.hlm
93-97.
Sutiyono. 2001.Pelatihan usaha penangkaran dan inseminasi buatan ayam
bekisar dalam rangka pengelolaan sumber daya hutan bersama masyarakat. Semarang.
Tarigan,
Ronstarci., O. Sjofjian., and I. H. Djunaidi. 2013. Pengaruh penambahan probiotik selulolitik dalam pakan terhadap kualitas karkas,
lemak abdominal dan berat organ dalam ayam pedaging.
Universitas Brawijaya.
Malang
Yoder, C.
A., J. K. Graham, and L. A. Miller. 2009. Molecular Effect of Nicarbazin on
Avian Reproduction. National Wildlife Research.Colorado State University.
Usman,
Ahmad Nur Ramdani. 2010. Pertumbuhan Ayam Broiler (Melalui Sistem Pencernannya)
Yang Diberi Pakan Nabati Dan Komersial Dengan Penambahan Dysapro. Institute
Pertanian Bogor. Bogor.
Widianingsih, M. N. 2008. Persentase organ dalam broiler yang diberi
ransum crumble berperekat onggok, bentonit, dan tapioca. Institut Pertanian
Bogor.10-20.
Wihandoyo, J. H. P. Sidodolog, H. Sasongko,
S. Sudaryati dan Tri Yuwanta. 2008. Ilmu Ternak Unggas. Bahan Ajar Lab. Ternak
Unggas Bagian Produksi Ternak, Fakultas Peternakan. Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar